Harus Siap (Kalaupun) Kena Covid #1

Tim RBB - 06 December 2021

Saat lagi tren kalimat 'Saya Siap di Vaksin' ternyata saya perlu ikhlas mengambil sikap berbeda.

Saat saya tulis ini-4 April 2021-, adalah hari kelima belas saya merawat ibu di kamar isolasi covid Rumah Sakit. 24 jam diisolasi dalam kamar yang sama dengan ibu dan dua pasien lain selama belasan hari adalah pengalaman spesial. Bagaimana kondisi ibu dan saya saat ini? Apa saya terpapar Covid? Melalui tulisan ini saya berharap bisa berbagi pengalaman dan beberapa hal yang saya anggap penting. Semoga bermanfaat. 

Ibu dan ayah-yang termasuk golongan lansia-  sudah divaksin pertama pada tanggal 8 Maret 2021.  Saya ingat dari saat mereka pulang vaksin sampai seminggu setelahnya, semua tampak baik. 

Seminggu setelah suntik vaksin, baru ibu mulai merasa tidak enak badan. Kondisi ibu semakin lemah dan tidak nafsu makan sampai akhirnya kami membawanya ke UGD dan tak diduga sama sekali beliau divonis Covid. Saat itu Minggu sore, 21 Maret 2021. Jadi setelah vaksin pun kita memang sebaiknya tetap melakukan protokol kesehatan (Eh apa mungkin ya ibu kena sebelum vaksin atau jangan-jangan ibu bukan kena Covid?) 

"Dokternya minta ada yang nunggu satu orang, ikut diisolasi juga", kata istriku yang mengurus ibu di IGD. "Mereka kekurangan petugas medis dan mama kan lansia dengan kondisi seperti itu" tambahnya. Sekejab rasa terkejut, senang dan bingung bercampur aduk. Terkejut 'kok ibu sampai kena covid', senang karena ibu bisa ditunggu, tapi bingung, kalau saya yang menunggu bagaimana pendapat istri, apa ia setuju, kan saya bisa saja ikut terpapar nantinya, sayapun jadi tidak membantunya mengurus dua bayi kembar kami dan pengasuhan dua kakaknya. Belum lagi masalah pekerjaan. Tak diduga, tanpa ragu ia mengizinkan. Tentu kami bawa dalam doa dan percaya akan setiap rencana Yang Maha Pengasih. 

(Perbekalan apa yang perlu dibawa akan saya ceritakan sesuai pengalaman melalui tulisan berikut ini)

Pasien Covid Dengan Kondisi (Cukup) Berat

Diatas adalah monitor untuk kondisi ibu. Pencapaian saturasi oksigen di angka 96 (normal antara 95-100) karena dibantu oksigen tambahan. 

Tak terbayangkan bagaimana kondisi pasien lansia yang lemah namun tidak dirawat satu orang khusus. Bersyukur kami diminta pihak Rumah Sakit ikut merawat ibu. Saya rasa walaupun tenaga medis memadai tidak akan sebanding dengan satu orang yang khusus merawat pasien. Kondisi yang lemah, tidak nafsu makan, nafas sesak, batuk terus, tidak bisa tidur  makan perlu dibujuk, disuap, minum air hangat sedikit-sedikit dan cukup sering, buang air, ganti pampers, ganti baju celana basah, usap minyak, garuk gatal, kasih selimut sampai kasih semangat dan membujuk lagi untuk minum obat yang jumlahnya sampai 8 jenis sekali minum. Apa iya tenaga medis mampu dan mau. Saya bersyukur diberi kesempatan sedikit berbakti. Tentu dirawat anak sangat berbeda dibanding orang lain. Apalagi Covid seringkali merenggut nyawa, perlu banyak perhatian. 

Benar Covid

Iya kemungkinan besar demikian. Yang saya tahu keunikan Covid adalah menyerang paru-paru, sehingga pernafasan menjadi bermasalah. Ibu yang non komorbid (tidak punya penyakit penyerta) saturasi oksigen nya menurun terus, sehingga perlu alat bantu pernafasan. 

Awalnya diberi oksigen melalui selang dihidung, lalu diganti masker, karena semakin menurun maka diganti masker dengan balon penampung air karena diberi tekanan oksigen tinggi, serta terus dimonitor. Bersyukur tidak sampai ke tahap ventilator (untuk pasien kritis). 

 Nah alat ukur saturasi oksigen ini (yang cara pakainya dijepit dijari dan dapat mengukur detak jantung juga) dijual bebas mulai harga limapuluh ribuan (kalau mau beli cari yang berkualitas dan awet tentu nya). 

Cari Posisi Terbaik Sebagai Pos

Saat tiba dikamar ukuran 5x6,5 meter, hanya kami saja yang menghuni. Saya menempatkan pos saya di pojok dekat jendela yang bisa dibuka serta dibawah AC. Sementara posisi tempat tidur ibu diseberang, 3 meter dari pos saya. Ada dua exhaust fan, di kamar dan di toilet.  Pintu toilet selalu saya buka agar aliran angin lebih kuat mengalir dan dihantar keluar oleh exhaust fan. Disini menurut saya penting sekali agar virus tidak mengarah ke saya. 

(Jadi, seumpama diri kita yang terpapar covid, saya sarankan cari lokasi yang minim menularkan virus ke orang lain. Pakai masker, jaga jarak, serta cari posisi yang berventilasi baik dan perhatikan arah aliran udara. Hindari berada di hulu (awal aliran), melainkan posisikan di hilir (akhir aliran). Sayangi orang lain, karena mereka juga lah yang akan merawat dan membantu.) 

Lalu saya membuat aturan, barang dari area ibu tidak bisa masuk di area saya dan setiap kali saya masuk area saya, maka saya perlu mensterilkan diri. 

Bersyukur saya dikirimi disinfectant semprot, bisa disemprotkan pada pakaian. Efektif atau tidak, mboh, namanya juga usaha yak. 

Esok harinya dua pasien Covid lainnya masuk kamar kami. Namun mereka tidak ditunggu karena masih muda dan bergejala tidak berat. Aiih tetap saja syereem. Makin horor situasi saya. 

Berikutnya.. 

Proteksi Diri, Menunggu Pasien 24 Jam Klik disini

(Untuk melihat berbagai film, lagu atau pengetahuan terkait Covid dan masa pandemi, klik Berbagai Hal Masa Pandemi ).