Makin Tua Makin Miskin

Tim RBB - 06 December 2021

'90% milenial bahkan profesional terancam bangkrut dan miskin saat pensiun atau saat hari tua' demikian awal tulisan Theodorus Wiryawan, CEO Wyrsolution yang belasan tahun malang melintang di dunia perbankan, tepatnya di BCA dan Citi Bank. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan 'apakah milenial atau generasi baby boomers sungguh sayang sama uang dan mau mengembangkannya?' Karena tampaknya banyak yang kurang peduli dan cuek.

(Foto; Screenshoot dari saluran Youtube The Real Talk Real Inspiration Talk #5)

Bunga Bank, Pinjaman dan Tabungan

Wiryawan membeberkan beberapa fakta yang sangat menarik sesuai pengamatannya:

  • Selama 15 tahun jumlah rekening dengan dana dibawah Rp 100 juta  TERUS BERTAMBAH tapi uangnya TIDAK BERTAMBAH. 

  • Jumlah rekening yang memilik dana diatas Rp 500 juta TIDAK BERTAMBAH BANYAK tapi jumlah uangnya MENINGKAT PESAT.

  • Data LPS bulan Juli 2021 menemukan fakta bahwa total rekening seluruh masyarakat Indonesia berjumlah 359,9 juta rekening, dengan total dana sejumlah Rp. 6.948 Triliun.

  • Dari data diatas, yang memiliki dana dibawa Rp.100 juta adalah sejumlah 353,8 juta rekening atau 98% dari jumlah seluruh rekening. Tapi dananya Rp. 945 Triliun atau hanya 14 % dari jumlah seluruh uang di perbankan Indonesia.

  • Yang memiliki dana diatas Rp.500 juta berjumlah 1,4 juta rekening, tapi dananya sekitar Rp. 5.000 Triliun atau 71 % dari seluruh uang yang ada di rekening Indonesia. 

Dari fakta diatas, ternyata dana penabung dengan jumlah uang dibawah Rp. 100 juta bisa dikatakan tidak mengalami pertumbuhan.

Hampir 70% rekening tabungan di seluruh Indonesia memilih empat Top Bank untuk menabung yaitu: BCA, Mandiri, BNI dan BRI. Wiryawan melakukan survey kecil dengan menanyakan kepada sepuluh orang disekitarnya, berapa bunga tabungan dari empat bank papan atas tersebut. Hasilnya, tujuh orang mengatakan tidak tahu dan tiga orang menjawab dengan ngawur. Dari jawaban yang terlontar, terlihat bahwa tidak ada yang sadar, berapa bunga tabungan tempat mereka menabung.

(Foto dari screenshoot di http://dapurpeta.blogspot.com/)

Lebih lanjut Wiryawan menjelaskan dengan mengambil contoh BCA

  • Untuk saldo dibawah Rp. 10 juta, BCA tidak memberikan bunga kepada nasabahnya dan masih membebankan biaya administrasi yaitu jenis Silver Rp. 15.000/bulan, Gold Rp. 17.000/bulan dan Platinum Rp. 20.000/bulan.

  • Untuk saldo berkisar 10 juta - 500 juta BCA memberikan bunga 0,03% setahun

  • Untuk saldo berkisar  500 juta - 1 Miliar, bunganya 0,04% setahun

  • Untuk Saldo diatas Rp 1 Miliar, bunganya 0,11% setahun.

Wiryawan mengamati bahwa banyak masyarakat tidak menyadari biaya administrasi yang dikenakan. Banyak yang memiliki lebih dari satu kartu atm. Ia mengasumsikan jika seseorang memiliki tabungan Rp. 2O juta maka dengan bunga 0,03 % setahun, maka orang tersebut mendapat bunga Rp. 6.000/tahun atau hanya Rp. 500/bulan. Sementara orang tersebut harus mengeluarkan biaya administrasi Rp. 15 ribu - 20 ribu/bulan. Maka yg terjadi, setiap bulan tabungannya alih-alih bertambah, justru akan berkurang (ada sejumlah 353 juta rekening yang kemungkinan banyak yang tidak menyadari atau tidak peduli kalau tabungan mereka tidak bertumbuh). 

Kartu Kredit

Kartu Kredit itu seperti membeli sesuatu namun dibayar oleh bank dahulu, jadi kita berutang pada bank. Bagi pihak Bank, saat kita membayar tagihan kartu kredit secara tunai atau transactor maka hal itu tidak membawa keuntungan berarti, sebaliknya, membayar tagihan dengan menyicil atau revolver akan sangat menguntungkan Bank, karena nasabah harus membayar bunga yang sekitar 30%/tahun. Cara perhitungan bunganya, nasabah bisa membayar minimum payment yaitu 10% dari tagihan saat jatuh tempo, tetapi total bunga berjalan dari tagihan yang belum dibayarkan akan ditambahkan pada bulan berikutnya atau dikenal dengan  bunga yang berbunga lagi.

Dana yang tidak berkembang dan pemakaian kartu kredit yang berlebihan akan sangat mungkin menjerumuskan banyak orang ke dalam utang kartu kredit dan berpotensi tidak memiliki uang di hari tuanya.

Simulasi Keuangan

Wiryawan memberikan contoh simulasi, bila ada seorang pegawai berusia 35 tahun dengan gaji Rp. 10 juta/bulan:

  • Pengeluaran bulanan sekitar 80% dari gaji atau sekitar Rp. 8 juta/bulan, (dibulatkan) sekitar Rp. 100 juta/tahun

  • Diasumsikan pensiun diusia 55 tahun (usia produktif masih 20 tahun lagi)

  • Dengan asumsi ekonomi Indonesia cukup baik dan tingkat Inflasi dibawah 1 digit. Saat ia pensiun, pengeluaran Rp. 100 juta menjadi Rp. 386 juta karena inflasi

  • Bila orang tersebut hidup sampai 75 tahun, berarti setelah pensiun usia 55 tahun, dia butuh uang untuk hidup selama 20 tahun lagi yaitu 20 tahun dikalikan Rp. 386 juta yaitu sekitar Rp.7,7 miliar. Apakah ia punya uang sejumlah itu? 

Yang terjadi di Indonesia, banyak orang-bahkan setingkat manager-, tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik. Uang mereka habis karena gaya hidup, tidak memiliki investasi yang baik, bahkan tidak pernah memiliki investasi. Misalnya, gaji Rp. 10 juta dan total pengeluaran Rp. 8 juta, jadi ada Rp. 2 juta yang bisa ditabung. Bilapun naik pangkat dan gaji menjadi Rp. 15 juta, kebanyakan pengeluaran ikut naik tinggi. Bila gaji naik lagi, pengeluaran ikut naik (membeli handphone terbaru, ganti mobil, lebih sering ke cafe, belanja di Mall, hobi baru, liburan keluar negeri dan lain-lain) demikian seterusnya.

Saat pensiun gaya hidup tidak dirubah. Pengeluaran bisa lebih besar daripada penghasilan atau uang yang ada dari tabungan yang dikumpulkan. Hutang (termasuk tagihan kartu kredit) bisa terus bertambah. Akibatnya gali lobang tutup lobang. 

Banyak pola keuangan profesional yang amburadul tidak terintegrasi:

  • Punya kartu kredit tapi revolver (bayar tidak full dengan bayar bunga 30% sampai 36%)

  • Punya asuransi. Kalau ditanya kenapa beli asuransi tersebut, jawabannya karena tidak enak, yang jual saudara atau anak tetangga yang baru kerja.

  • Punya reksadana. Bila ditanya kenapa beli reksadana ini dan bukan jenis lain, jawabannya karena kenal sama yg jual. 

Gaya hidup tidak menyesuaikan, contohnya:

  • Saat masih aktif bekerja sehari satu bungkus rokok, saat pensiun masih sama

  • Saat aktif bekerja, seminggu 3 kali makan siang di resto. Setelah pensiun kebiasaan itu walau berkurang masih ada

  • Saat jadi manager naik mobil mewah yang boros uang, saat pensiun masih pakai mobil tersebut

  • Ditambah lagi bila saat pensiun sakit sakitan atau biaya pengonatan bertambah, namun sudah harus bayar sendiri (tidak ditanggung perusahaan lagi)

Jadi bisa diperkirakan dengan asumsi diatas, banyak profesional akan miskin di hari tua.

Millenial

Kemudian Wiryawan membahas juga generasi millennial yang kebanyakan tidak bisa memiliki rumah karena harga rumah naik hingga 20% setiap tahunnya, tidak sebanding dengan pendapatan yang hanya akan mengalami kenaikan 10% setiap tahun. Lalu menurutnya, berdasarkan survey , generasi millennial menghabiskan banyak uang mereka untuk makan atau ngopi di resto. Tribunnews.com (12 Februari 2018) pun mencatat bahwa ada millennial bergaji Rp. 27 juta/bulan yang menghabiskan lebih dari Rp. 47 juta/tahun untuk kopi (termasuk makanannya). Angka yang cukup fantastis untuk pengeluaran dalam satu bulan. Layanan e-commerce, go food, grab dan lainnya sangat memudahkan sekaligus mendorong pengeluaran semakin besar. Perubahan jaman membuat gaya hidup masyarakat menjadi semakin konsumtif. Apabila dibandingkan dengan generasi x dan baby boomers, generasi millennial memiliki pengeluaran lebih besar namun jumlah tabungannya justru lebih kecil. Satu satu yang bisa dilakukan adalah mengatur pengeluaran

Kesimpulan Masalah dan Saran

Wiryawan memberi kesimpulkan beberapa masalah yang terjadi di Indonesia:

1. Tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik

2.  Pola pengaturan keuangan tidak terintegrasi dengan baik

3.  Sulitnya mengubah gaya hidup konsumtif.

Ia menyarankan untuk melek finansial dan terus dilakukan diskusi keuangan.

(Penulis: Tim Rbebe, 12 Oktober 2021)

Klik materi Serba-Serbi Perencanaan Keuangan