Anti Mainstream Masa Covid.

Tim RBB - 06 December 2021

(Foto: pemandangan yang diambil dari ruang isolasi lantai 3 Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Cimanggis Depok) 

Anti mainstream disini membicarakan suatu sikap yang bisa dianggap tidak biasa, berbeda dari sikap kebanyakan pihak/orang. 

Anti mainstream dilakukan Rumah Sakit Bhayangkara Brimob Cimanggis Depok. Saat pasien covid perlu diisolasi dari orang non covid, Rumah Sakit (RS) ini justru meminta dengan tegas dan konsisten agar pasien covid lansia ditunggu satu orang. Alhasil Nurman-29 tahun-, yang menunggu kakeknya merasa dijebak oleh saudaranya. "Saya disuruh nemenin uwak, ternyata disini ga bisa keluar-keluar, ikut diisolasi, " kata Nurman menceritakan ihwal dirinya menjaga kakeknya yang kena covid.

(Foto: Nurman di depan kamar isolasi) 

Lain cerita, ada pasien yang urung masuk. Sebut saja ibu Uun, yang berusia 60 tahun. Ia adalah pasien covid rujukan dari RS lain, dihantar ambulan ngiung ngiung ke RS Bhayangkara. Saat di ruang IGD ia protes kenapa ada aturan itu, "Saya kan masih bisa sendiri, makan, ke toilet." Tambah kesal saat anaknya tidak ada yang mau menunggunya bila ia masuk kamar isolasi. "Pada takut ketularan," jelasnya. Akhirnya satu anaknya menanda tangani surat pernyataan, lalu mereka mencari RS lain. 

Berbeda dengan ibu Uun, ibu saya-yang saat awal masuk RS tampak lemah sekali-, dengan mantap menunjuk saya untuk menunggunya. Hasilnya? Hari ini adalah hari ke 24 saya di isolasi di RS ini. Manjaga ibu? Iya pada tiga minggu pertama, namun saat ini sudah 3 hari saya yang menjadi pasien covid, sementara ibu sudah negatif dan dipindah ke ruangan non covid. 

"Lu suicide mission (misi bunuh diri) dong mas," begitu sobatku berkata. Ya bener juga sih, mengingat banyak nyawa melayang lewat covid, tapi sejujurnya ibu saya sungguh membutuhkan bantuan perawatan khusus. (Baca artikel sebelumnya Harus Siap (Kalaupun) Kena Covid

Kelalaian yang saya ingat adalah pada tiga hari awal di RS. Saat malam saya perlu tidur dekat ibu, karena harus rutin memantau monitor, mengisi air oksigen, memberi minum ibu, menepuk punggung dan seterusnya. Saya tertidur dan terbangun dengan masker saya terlepas. Itu berlangsung beberapa kali. Saya harap ini pelajaran bagi calon penunggu pasien lainnya.

"Banyak kok yang tetap negatif, bahkan penunggu di ruang ICU negatif," begitu mba suster bercerita sambil menyuntikkan vitamin dosis tinggi ke infus saya. Ya, walau tak bergejala, saya tetap diinfus. 

Untuk kebijakan anti mainstream RS Bhayangkara-walau akhirnya saya ikut terpapar-, saya beri jempol karena membantu saya merawat ibu sampai beliau negatif covid. 

Klik Film, lagu & berbagai pengetahuan Covid-19

Untuk Kebaikan

Anti mainstream dilakukan juga oleh Epson Indonesia (Epson). Saat banyak perusahaan memperketat pengeluaran saat pandemi, Epson justru banyak mengeluarkan anggaran untuk mendukung kegiatan pendidikan. Berbagai pelatihan daring diwujudkan dengan bantuan Epson. Berbagai penggerak pendidikan diseluruh pelosok Indonesia didukung, termasuk program Rumah Belajar Bersama-Rbebe-, yang bertekad menyediakan berbagai materi pendidikan gratis bagi masyarakat Indonesia. Aksi Epson tampak a suicide mission-misi bunuh diri-, disaat pendapatan menurun dan anggaran harus diperketat karena pandemi, Epson justru terus mengeluarkan biaya untuk mendukung pendidikan di Indonesia. "Kami tidak hanya menjual produk tapi juga mewujudkan nilai yang terkandung dalam produk itu", demikian pemaparan Zanipar Siadari selaku Head of Visual Instrument and Printer Departement PT Epson Indonesia. (Klik Epson untuk info produk) 


(Foto: Kegiatan yang didukung Epson) 

Gerakan mirip Epson ini dilakukan oleh Selvia, seorang Ibu Rumah Tangga yang bermukim di daerah Mekarsari, Depok. Paska Selvia 'dirumahkan' bulan Maret 2020' karena wabah covid-19, tujuh bulan setelahnya, yaitu bulan Oktober 2020, ia memutuskan secara berkala memberi makanan,  kopi, snack dan masker gratis bagi orang-orang dijalan dan warga yang membutuhkan.  "Walau kita dalam kondisi yang pas-pas-an tapi insyaAllah dapat bermanfaat bagi banyak orang." Gerakannya ternyata didukung oleh keluarga dan teman-temannya. "Kadang saat anggaran tidak cukup, saya tetap ke pasar untuk belanja bahan, tiba-tiba ada saja yang bantu, transfer masuk, jadi tercukupi." Lebih anti mainstream lagi, Selvia dibantu sukarela oleh Heni, seorang janda pengojek yang mempunyai anak disabilitas. Heni ini penerima bantuan sosial rutin pemerintah yang ikut membantu aksi sosial Selvia. Sampai tulisan ini dibuat, Selvia dan Heni masih konsisten melakukan aksi sosial mereka. 

(Gambar:Heni & Selvia menjelang aksi sosial) 

Anti Mainstream Konyol 

Ulah anti mainstream dengan cara dan tujuan konyol dilakukan dua orang teroris. Satu meledakkan dirinya di Gereja Katedral Makassar dan satu lagi menembak membabi buta pos Mabes Polri Jakarta sehingga ia ditembak mati. 

Anti mainstream konyol juga dipertontonkan dalam pra sampai paska pernikahan Atta-Aurel, kemewahan selebritis di umbar saat bencana bertubi-tubi melanda bangsa Indonesia yang rakyatnya sudah lama sengsara karena pandemi. Bagaimana menurutmu? Yuk belajar bersama. 

Nowan ARK - Best Feeling Achievement 

(More Than A Happiness)